Modifikasi Pendidikan Akhlak

Modifikasi Pendidikan Akhlak

Ismail  DP

Pendahuluan

Huston Smith pernah menyatakan penyesalannya dan merasakan adanya sesuatu yang hilang dalam rangka keberilmuan orang-orang modern masa kini. Ia merasakan tidak terpatrinya pandangan orang moderen dan hasil temuannya dengan Maha Penciptanya. Bukanlah kita menemukan sesuatu – katanya-, tetapi kita kehilangan sesuatu, karena kita telah membiarkan diri kita secara sengaja dan atau tak sengaja terperangkap dalam epistemologi yang tidak memberikan ruang pada ketuhanan dan pengakuan akan  adanya kehidupan di balik kehidupan di dunia ini.[1]

Dunia pendidikan di Indonesia saat ini terlalu asyik membicarakan hasil-hasil temuan, ujicoba (eksperimen), metodelogi, alat-alat pembelajaran yang canggih  dan lain-lain sebagainya, sehingga hampir tidak ada  waktu untuk memikirkan tujuan akhir dari sebuah proses pendidikan. Kurikulum Pendidikan Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi direnovasi dan direnovasi terus, bobot mata pelajaran selalu tertambal sulam dengan alasan penyesuaian pendidikan global tanpa memperhitungkan kebobrokan moral anak didik di masa datang. Kini baru dan mulai disadari, betapa tidak  guru dicaci maki oleh muridnya, orang tua dibunuh anaknya, dan macam-macam peristiwa yang bermunculan; lalu pemikir-pemikir pendidikan mulai sadar dan mencoba meramu serta memodifikasi sistem dan kurikulum  pendidikan yang bernuasa agama, akhlak dan lain-lain untuk  mengembalikan objek didik kepada fitrahnya.

Searah dengan  pemikiran untuk memodifikasi pendidkan akhlak itu, maka Abdullah Nasih ‘Ulwan mengelompokkan pendidikan dalam enam macam: (1). Pendidikan Ketuhanan;  (2) Pendidikan Akhlak;  (3) Pendidikan Jasmani;  (4) Pendidikan Akal; (5) Pendidikan Psikologis dan (6) Pendidikan Bermasyarakat[2].

Mahmud Yunus mengemukakan tiga alternatif tujuan pendidikan : (1)  Untuk mempermudah mencari rezki (kasbu al-rizqi); (2) Untuk memperoleh ilmu pengetahuan (al-ilmu); dan (3) Untuk berprilaku yang baik (akhlak)[3]. Didalam makalah ini, penulis cenderung menggabungkan antara pilihan  ke-dua dan ke tiga dalam rangka mendukung terwujudnya pilihan pertama.

Mudah-mudahan penentuan pilihan ini bukan seperti lahirnya penyesalan Hustom Smith di atas setelah melihat hasil pendidikan Amerika, dan mungkin bukan pula seperti lahirnya penyesalan Manuel Mendonca di depan masyarakat Manajemen di Motreal Canada[4].

Filosof dan Akhlak

Kata Akhlak yang terambil dari Bahasa Arab, dapat diartikan dengan tabiat, karakter, perangai, kebiasaan, agama dan lain-lain. Di dalam kamus besar Bahasa Indonesia Akhlak diartikan  dengan “Budi Pekerti” atau “Prilaku”.  Cobalah cermati makna ungkapan hadits , ayat Alquran dan ungkapan hikmah di bawah ini:

“ إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ[5] (Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia). Dalam hadits lain  الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ [6](Kebajikan itu terletak pada kebaikan akhlak). Dan ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab “ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ[7] (Budi pekerti beliau Saw adalah al Qur’an). Dan ungkapan yang terkenal dewasa ini tentang akhlak adalah “ إِنَّمَا الأمم الأخلاق مابقيت وإن همو ذهبت أخلاقهم ذهبوا (Sesungguhnya bangsa–bangsa  akan tetap berjaya selama akhlak mereka tetap ada; bila akhlak mereka telah tiada, maka merekapun akan sirna.

Nasih A.Ulwan menjelaskan bahwa pendidikan akhlak adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan agar objek didik memperoleh sekumpulan prinsip budi pekerti.karakter mulia dan keutamaan prilaku, lalu terbiasa dengannya sejak dini sampai ia dewasa dan bergumul dengan kehidupan nyata[8].

Selajutnya dipertanyakan, Apa kriteria atau tolok ukur dan bentuk yang dikatagorikan berakhlak mulia ?. Para ulama memberi rumusan bahwa baik dan buruk dalam prilaku mestilah merujuk kepada ketentuan tuhan. Apa yang dinilai baik oleh tuhan, pasti baik dalam esensinya,  demikian pula sebaliknya, tidak mungkin tuhan menilai sebuah kebohongan sebagai  suatu kebaikan, karena kebohongan esensinya tetap buruk.

Aristoteles mencoba membuat filsafat yang berkaitan dengan moral untuk dijadikan panduan ummat manusia, namun perlu ditegaskan bahwa  pendidikan agama dan akhlak harus berjalan seiring, karena  agama adalah ruh dari akhlak. Fichteh (Seorang fiolosof Jerman) pernah berucap “Akhlak tanpa agama adalah sia-sia”. Ibnu Maskawaih menjelaskan bahwa syariat agama  merupakan faktor yang meluruskan karakter remaja, yang membiasakan mereka untuk berbuat baik, sekaligus mempersiapkan diri untuk menerima kearifan.[9]

Akhlak pada esensinya tidak dapat disamakan dengan etika. Kalau etika berkaitan dengan sopan santun antar sesama manusia  serta cenderung berkaitan dengan prilaku  lahiriyah, maka akhlak mempunyai makna dan dimensi yang  lebih luas, termasuk sikap batin maupun pikiran. Para pakar mencoba merumuskan tiga objek akhlak : (Pertama), Akhlak terhadap Tuhan; (Kedua), Akhlak terhadap diri sendiri dan sesama manusia dan (Ketiga), akhlak terhadap lingkungan.[10]

Pada perbincangan yang dilakukan akhir-akhir ini terhadap pendidikan, tidak banyak perhatian yang diberikan terhadap pandangan para filosof terdahulu yang selama sekian abad melakukan olah pikir dan meditasi tentang makna pendidikan dalam kaitannya dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang prilaku manusia.

Merekalah yang sebenarnya  telah membuat proposal tentang filsafat pendidikan, sembari tetap setia terhadap makna kemanusiaan, mereka jugalah yang membuat terciptanya sains. Pandangan-pandangan mereka  bila dicoba untuk diamati dan dianalisa lebih lanjut, maka ternyata sangat mengakar di kedalaman pandangan nilai-nilai suci Alquran.

Kita sebenarnya mengalami dilema yang sangat mendasar, dimana kita terjebak dalam pemberian kesempatan terhadap semua yang berlabel  Moderen untuk merasuk dan mengisi kefakuman  jiwa sebagai akibat dari penolakan kita terhadap tradisi intelektual kita. Sehingga jangan-jangan  ada suatu sistem pendidikan tradisonal –yang kita abaikan– yang tenyata telah melahirkan seorang al-Biruni, Ibnu Khaldum atau seorang Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih atau semisalnya dan yang menggambarkan bahwa selama berabad-abad hasil  dari sistem pendidikan mereka ternyata telah berhasil melahirkan pemikir-pemikir (Ilmuan-ilmuan) dalam berbagai disiplin ilmu dan sekaligus sebagai manusia-manusia yang dalam istilah  Qutub disebut Al-Insanu al Shaalih. Untuk memahami hal itu marilah kita simak sepintas pandangan Ibnu Maskawaih, Ikhwan Al-Safaa dan Ibnu Sina  yang sengaja terambil sebagai sample.

Sampel Pertama,: Banyak kalangan penulis Timur-Tengah yang menyatakan bahwa di antara sekian literatur tentang akhlak, maka yang paling memiliki nilai yang sangat tinggi dan berharga adalah naskah klasik Ibnu Maskawaih yang berjudul: Tahzibu al akhlak (941-1030) yang menurut para ahli merupakan buku teks pertama tentang filsafat etika. Naskah ini telah dibuat sarahnya oleh  Ibnu Al Khatiib pada tahun 1985 yang memberikan penilain sebagai naskah yang paling tertinggi nilainya di antara sekian naskah filsafat tingkat dunia tentang etika.

Sebuah silogisme Ibnu Maskawaih  tentang pendidikan akhlak sebagai berikut : “Setiap karakter dapat berubah. Apapun yang bisa berubah-ubah, itu tidak alami. Kalau begitu tidak ada karakter yang alami. Setelah memberikan penjelasan yang cukup panjang, ia lalu menyimpulkan besarnya peranan, manfaat dan pengaruh pendidikan terhadap objek didik[11]

Sampel Kedua adalah Ikhwanu al-safaah, meskipun Ia dikemudian hari diasosiasikan sebagai faham Syi’ah pada umumnya dan Isma’iliyyah  pada khususnya  sebagaimana tulis Netton (1982), tetapi pandangan mereka yang tertuang dalam buku Rasaa’il menjadi kajian para sarjana dan pemikir islam secara luas, apakah mereka sunny atau syi’ah, termasuk teologi sunny semacam Al-Gazali. Mulla Sadra di dalam buku Asfaar memberikan deskripsi bagaimana kuatnya gaung Rasaa’il beberapa abad lamanya.

Nasr menulis bahwa  maksud Ikhwan  al-shafa menyusun Rasa’il, tidak terlepas dari pemberian masalah-masalah (mulai Dari tujuan, tahapan, isi, mehode, serta  unsur-unsur lain yang bersifat pendidikan) yang tertuang dalam 51 bab. Khususnya pada bab IX  dijelaskan tentang akhlak dan penyebabnya munculnya perbedaan pandangan terhadapnya (Fi bayani al-akhlaq wa asbab ikhtilafiha), dimana digambarkan pula tentang pengaruh lingkungan, rumah, sekolah dan pendidik serta faktor-faktor lain menyangkut pendidikan.[12]

Menurut Ikhwan, Jiwa (Ruh) adalah subtansi spirtual, samawi yang dapat memancarkan cahaya, yang hidup dan secara potensial mengetahui sesuatu serta pada hakikatnya aktif.  Tujuan inti pendidikan  adalah membuat jiwa (ruh) mengaktualkan kemungkinan- kemungkinan potensi tersebut atau bagaimana mengeluarkan pengetahuan yang telah lama mendekam dalam bentuk potensi diri ke bentuk prilaku (aklak) dan sikap. Dengan demikian subtansi jiwa dapat menjadi baik, akhlak menjadi terepuji dan sempurna demi persiapan hari kemudian yang eternal[13].

Seterusnya sikap yang diharapkan oleh mereka yang menguasai sains, bukannya untuk menguasai dunia dan memperoleh kekuasaan eksternal, tetapi untuk meguasa diri, dengan hiasan pengetahuan yang dikombinasikan dengan kebajikan-kebajikan. Dengan demikian patut untuk tinggal di suatu alam yang oleh setiap jiwa yang suci mengharapkannya dan akhir perjalanan panjang nantinya. Kalau dikaitkan dengan pengamalan suatu ibadah keagamaan, diharapkan setiap individu menempuh suatu hirarkhi pendidikan yang  oleh Nasr diistilahkan mengarah dari Eksoteris (Al-Dhawaahir) ke Esoteris (al damaair)[14], atau sebaliknya.

Sampel Ketiga; Filosof muslim lainnya yang membahas masalah pendidikan  adalan Ibnu Sina. Dia mengutarakan pandangannya tentang permasalahan  pendidikan  dengan sangat spesifik dalam bukunya Tadbiru al-manazil bahkan ia juga tidak luput dari sentuhan masalah pendidikan dalam bukunya  yang lain seperti: Shifa’, Risalat al-siyasah, dan Canon (Al Qanun fi al Thibbi).

Menurut Ibnu Sina;  Proses pendidikan dimulai dengan peranan kedua orang tua sebagai guru pertama, dan berakhir dengan peranan lain di luar diri manusia, di dalam menerangi jiwa, yang membuatnya mampu untuk melihat Tuhan  (experience the vision of God), dan memenuhi tujuan akhir pendidikan yang tiada lain adalah eksistensi (wujud) manusia itu sendiri.[15] Pandangan filosofis pendidikan Ibnu Sina inilah yang membuat Shihab al Din Suhrawardi yang digelar  sebagai Shaykh al ishraaq (Master of Illumination) menekankan perlu adanya Pendidikan Komprehenship manusia seutuhnya (thwe education of the whole man) untuk dijadikan tujuan pendidikan secara filosofis.

Pendidikan bahkan bermula sejak memilih pasangan,  yang kelak  karakter intelektual dan moralnya  akan mempengaruhi sang anak. Disiplin harus ditanamkan  sejak masa penyusuan, dan sebenarnya ini merupakan langkah awal dari pembinaan prilaku dan moral serta ta’dib menurut istilah yang dipakai oleh Syed Mohammad Al Naquib Al Attas.[16]

Ibnu Sina di dalam bukunya Al-Qanun (Canon) juga menekankan pentingnya setiap anak diberikan perhatian secara individual dan hendaknya pendidik tidak memberi jalan untuk timbulnya amarah atau perasaan takut, kemurungan, kesedihan, dan patah semangat di pihak peserta didik. Oleh karena itu pengendalian emosi dan disiplin diri harus dan perlu ditanamkan, agar pikiran peserta didik  terbiasa dengan emosi yang sifatnya positif, dan dengan cara demikian sikap, prilaku dan kebiasaannya  yang baik-baik dapat dikembangkan sedini mungkin.  Hal yang demikian akan berdampak dan bermanfaat langsung pada jasmani sang objek  didik (anak). Di sinilah kita melihat  bagaimana faktor “pembiasaan” diberi perhatian penuh sedini mungkin  oleh Ibnu Sina.

Peserta didik juga harus memiliki  seorang guru yang langsung dapat membinanya dan membentuk sikap dan prilakunya yang positif[17].  Baik di sekolah maupun di rumah, harus saling melengkapi satu sama lain dalam pencapaian tujuan pendidikan sejak awal, yakni untuk memperkuat keimanan, membina akhlak dan prilaku terpuji dan kesehatan serta membentuk fondasi dasar untuk berfikir yang betul (Correct thinking).

Ibnu Sina juga menekankan pentingnya persaingan dan kompetisi sehat, sportifitas dan motifasi serta semangat terhadap peserta  didik. Kesemuanya dimaksud untuk membina karakter dan memperkuat tumbuhnya kebajikan dan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan.[18]

Berbicara tentang sikap guru, Ibnu Sina menghendaki adanya sikap kesederhanaan (moderation) guru  menghadapi peserta didiknya; tidak terlalu keras dan tidak juga terlalu gampangan  (neither excessively lenient nor harsh).  Pemilihan bidang pengetahuan yang diminati oleh peserta didik harus mendapat perhatian penuh. Demikian; motto berakhlak mulia, beradab sehat, berpengetahuan luas, dan berfikiran bebas menjadi fokus penekanan Ibnu Sina dalam Pendidikan.

Modifikasi Pendidikan Akhlak

Berdasarkan pandangan ulama dan pakar terkemuka tentang pendidikan, maka beberapa pokok pikiran diatas kiranya layak disajikan untuk menjadi problema  pendidikan  yang dapat dilakukan dalam rangkaian pembentukan sikap dan akhlak mulia yang diharapkan.:

1. Keteladanan

Qutub (:221) menyebutkan keteladanan dalam bahasa arab sebagai Qudwah. Tehnik pendidikan ini – meskipun sering terlupakan dalam diskursus pendidikan[19] – merupakan salah satu tehnik yang efektif dan dapat membuahkan hasil gemilang.  Al–Abrasyi (1964) menulis bahwa keteladanan merupakan faktor utama  dalam membentuk kebiasaan. Itulah sebabnya, maka Ibnu Sina menegaskan perlunya guru yang bertindak sebagai mursyid dan referensi hidup peserta didik yang dapat diteladani. Manusia teladan terbesar didalam alam nyata adalah Rasulullah Muhammad Saw sendiri.

Orang-orang Arab di zaman jahiliyah, telah melihat pada diri Muhammad  Saw keistimewaan dan kemuliaan akhlaknya, sehingga beliau digelari dengan “Al-Saadiqu al-amiin” (yang benar lagi amanah).

Orang tua di rumah, guru di sekolah, dan pemuka masyarakat baik formal maupun informal di masyarakat, adalah pendidik yang menanamkan benih-benih pertama dan utama akhlak mulia  serta sikap dan prilaku determinan dalam diri anak didik.

2. Sentuhan kalbu melalui kata-kata hikmah.

Di dalam menanamkan nilai-nilai yang tersentuh, adalah rasa dan kesadaran manusia yang lebih dalam,  yang letaknya bukan di otak, tetapi di lubuk hati yang dalam. Hal ini tentu terkait erat dengan aspek afektif dan psikomotorik.

Ada suatu hal menarik yang perlu diaktualisasikan kembali dalam kaitannya dengan pendidikan nilai untuk menyentuh kesadaran manusia yang lebih dalam setelah hilang dari peredaran, khususnya di lembaga-lembaga  pendidikan Islam; yaitu pelajaran Al mahfuudhat, yang berisi sentuhan akan nilai-nilai belajar, kebenaran, kejujuran, kesungguhan, kehormatan, kedisiplinan, penghargaan atas ilmu pengetahuan, dan sebagainya yang tentunya untuk menumbuhkan sikap fleksibilitas, keterbukaan, ketegasan pandangan ke depan, percaya diri, toleransi dst. Pelajaran berupa amstaal (perumpamaan), kata-kata hikmah, dan ungkapan-ungkapan indah dan benar dapat menyentuh hati secara efektif.

Manusia moderen, sebenarnya sangat membutuhkan sentuhan-sentuhan pendidikan nilai-nilai sufistik dan falsafah hidup keagamaan yang  lebih fundamental. Oleh sebab itu, disarankan adanya seorang pendidik khusus yang menangani pendidikan nilai lewat tehnik-tehnik ini.

3. Kisah-kisah

Kisah-kisah yang mengandung nilai seperti Al Qiraat al Raasyidah yang banyak beredar di Indonesia atau semisalnya diharapkan dapat membentuk kebiasaan dan akhlak mulia. Kisah-kisah serupa didapati juga dalam bahasa Inggeris  yang dibuat oleh Aesop.  Nilai edukatif Kisah Alquran, bahkan banyak diteliti dan ditulis menjadi Desertasi Doktor. Kisah-kisah pendek yang diceritrakan kurang lebih 5 – 15 menit, tentu dapat diinkoorporasikan dalam satu mata pelajaran tertentu atau dikisahkan sebelum penyajian topik initi suatu mata pelajaran.

4. Kedisiplinan

Kedisiplinan, sebenarnya sangat efektif untuk membentuk sikap positif di kalangan peserta didik. Hal ini erat kaitannya dengan ketegasan yang proporsional – tapi bukan kekerasan.

5. Tiga Prinsip Dasar Pendidikan.

Semua tekhnik yang dikemuikakan di atas harus mengacu pada prinsip dasar sebagaimana tergambar di bawah ini:

a. Keterpaduan.

Perinsip ini merupakan hal yang bersifat integral yang oleh Sayyid Qutub disebut “Jismuhu (Al-Kaa’in al-Basyariy wa ‘akluhu wa ruuhuhu, hayaatuhu al-maddiyah wa al-ma’nawiyah; yakni pendidikan yang menekan keseimbangan antara pengembangan spirtual-perasaan, intelektual-perasaan dan jasmaniyah.

b. Kesinambungan

Ini dimaksudkan agar seseorang dapat dibuat terus menerus secara kontonu meningkatkan kualitas diri, sesuai dengan prinsip Life long educatin yang akan menghasilkan Life long learning sebagaimana yang diakui oleh  Drucker bahwa Post-capitalist society requires life long learning atau Min al-mahdi ila al- lahdi (Pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat),  serhingga diharapkan akan terjadi pemeliharaan sikap dan akhlak serta penumbuhan dan pendewasaan yang terus menerus.

c. Kesejalanan (Sinkronasi).

Yang dimaksudkan disini adalah adanya sinkronasi antara apa yang diterima oleh peserta didik di sekolah dengan pandangan serta apa yang terjadi di lingkungan keluarga dan masyarakat, sehingga tidak menimbulkan apa yang disebut oleh Al Bouty :“Al-Mujtama’ al-mutanaaqidh . Disatu pihak moral dan nilai akhlak diajarkan, dan di lain pihak diinjak-injak dalam praktek keseharianya.

Penutup

Uraian singkat mengenai pendidikan akhlak ini, kiranya dikembangkan dengan menambahkan gaya dialogis dan pemberian pemahaman terhadap fenomena kehidupan dan pengambilan pelajaran dari apa yang telah dan sedang terjadi, sehingga tercipta sentuhan-sentuhan  rohaniah pada akal  dan kalbu.

Nilai-nilai akhlak yang diajarkan harus selaras dan serasi, (tidak saling bertentangan). Disamping itu, diperlukan munculnya kelompok yang  benar-benar menghayati  nilai-nilai akhlak, dan aktif mengalirkan arus positif dalam masyarakat lingkungannya, sebagaimana  diperlukan pentahapan dalam sosialisasi nilai-nilai yang ingin ditularkan, dan pembiasaan-pembiasaan yang bemuatan disiplin, serta persuasi ganjaran dan sangsi.

Terakhir, perlu digarisbawahi bahwa keteladanan para orang tua, orang dewasa, dan pemuka masyarakat, baik formil maupun nonformil, merupakan unsur yang amat penting bagi penghayatan dan pengamalan nilai-nilai akhlak.

Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA

Abud, Abdul Ghani, Al-Fikru al-Tarbawiy ‘Inda  al-Gazaly, Cairo: Daar al-Fikri al-Arabiy, 1982.

Al-Abrasyi, M, Atthiyah, At-Tarbiyah al-Islamiyah, Kairo:Daar Al-Qaaumiyah. 1964.

Al-Attas, Naquib, The Consep of Education In. Islam : A Framework for an Islamic Philosophy of Education, Kuala Lumpur: ABIM 1980

Al-Bouthy, Said Ramadhan, Al-Islam Wa Musykilaat al-Syabab, Maktabah al-Faarisiyyah. 1393 H.

Hasan, Adnan Shaalih Baharits, Masuuliyyatu al Abi al Muslimi fi Tarbiyyah al Waladi fi Marhalati al tufuulati, Jeddah: Dar al Mujtama’ 1991

Ibnu Miskawaih, Abu Ali Ahmad, Tahzib al-Akhlaq Wa Tathhiru al-A’raq (Tahqiq Ibnu Al-Khatiib),  Libanon: Dar Al-Kutub al-Ilmiyah, 1398 H.

Ibnu Sina, A Treatise on the Canon of the Medicine. Trans. O.H.Gruner London 1980.

——–  Tadbir al-Manazil, Bagdag: TP. 1979.

Nasih ‘Ulwan, Abdullah,  Tarbiyat al Awlad fi al-Islam, Cet. XXI, Jilid I, Jeddah: Darussalam 1992.

Nasr, S. Hussein, Tradisional Islam in the Modern World, London & New York: Kegan Paukl International, 1987.

Qutb, Muhammad, Minhaju al-Tarbiyyah al-Islamiyyah, Cairo : Daar al Syuruuq, tt.

Smith, Hustom, Essays on World Religions, New York: The New American Liberary, 1992.

Syihab Quraish, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan 1998.

Thaha Mahmud, Muhammad, Duruusu al-akhlaq, Cairo: Mathbaah al-Ma’hid, 1932.

Yunus, Mahmud. Attarbiyatu Wa al Ta’lim, Jilid I, Padang Panjang: Al Maktabah al-Sa’adiyah, 1942.


[1] Huston Smith, Essays on World Religions, (New York: The New American Liberary, 1992), h. 41

[2] Abdulah Nasih ‘Ulwan Tarbiyah Al-Aulad fi al-Islam,  (Cet. XXI Jilid I Jeddah Darusslam, 1992), h.18

[3] Mahmud Yunus Al-Tarbiyatu Wa al-Ta’lim, Jilid I (Padang Panjang; Al-Maktabah Assadiyah, 1942), h.12-15

[4] Manuel Mendonca adalah guru besar  dalam Ilmu Manjemen, setelah menyesali ulah dan sikap para manajer dan calon manajer, (murid-muridnya) di  Montreal yang kurang menghargai nilai-nilai yang sepatutnya dimiliki oleh seorang pemimpin dan ilmuan, lalu ia menulis buku Ethikal Dimension of Leadership. Cobalah kita renungkan sepotong ungkapannya:”If only greed be there for some material feast, How draw e line beetwin the man-beast and the beast? Ia jugalah yang menanamkan nilai-nilai altruistik dalam manajemen dan kepemimpinan.

[5] Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), hadis nomor 8595

[6] Muslim bin Hajjaj al-Naisaburiy, Shahih Muslim (Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, t.th.), hadis nomor 4632

[7] Ahmad bin Hanbal, op. cit., hadis nomor 24629

[8] Nasih A. Ulwan,  op. cit h. 177

[9] Abu Ali Ahmad Ibnu Miskawaih, Tahziibuhu al-Akhlaq Wa Tathhiru al-A’raq (Tahqiq Ibnu Al-Khatiib),  (Lebanon: Dar Al-Kutub al-Ilmiyah, 1398 H), h. 40

[10] M Quraish  Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung; Mizan 1998), h. 255

[11] Ibnu Maskawaih, op. cit., h. 41-45

[12] S. Hussein Nasr,  Taradisional Islam in the Modern World, (London & New York: Kegan Paul International, 1987), 149

[13] Nasr (1987) menanggapi pandangan Ikhwan al shafa, menulis bahwa: the goal of education is to perfect and actualize all the possibilities of the human soul leading finally to that suporeme knowledge of the definity which is the goal of human life. Seterusnya ia berkata: “Knowledge acquired through education is in fact the ultimate nourishment which sustains man’s   immortal soul, wil actualization of what is potensial in the soul is existence (wujud) it self, the mode of existence which does nit perish with date”. Lihat ibid.

[14] Maksudnya, rasa keagamaan harus selalu berdimensi esoteris dengan penegasan bahwa setiap tingkah laku eksoteris (lahiriyah) absah hanya jika mengantar manusia kepada pengalaman esoteris (bathiniah).

[15] Hal ini berkaitan dengan pandangan pendidikannya yang tertuang dalam doktrin mengenai “intelek” atau “aql” dimana ia memandang bahwa proses pembelajaran mengandung  implikasi aktualisasi dan penyempurnaan potensi-potensi dan kemampuan intelek (aql) nya apakah itu teoritocal (al nadhari) atau practical (‘amali, akhlaaqi) melalui limpahan cahaya dari Actif Intelect.

[16] Al-Attas menjelaskan bahwa kata ta’dib lebih layak digunakan ketimbang kata “Tarbiyah”. Menurutnya konsekwensi yang timbul akibat tidak dipakai konsep Ta’dib adalah hilangnya adab. Lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas The consept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education (Kuala Lumpur: Muslim Youth Movement of Malaysia  (ABIM), 1980), h. 15

[17] Kemungkinan ajaran inilah yang membuat Imam Syafi’i berkata dalam Diwannya: Akhi, . . .   Lan tanal al ilm illa bi sittatin: Zakaun   wa hirshun  wa  ijtihadun  wa dirhamun, wa suhbatu  ustazin, wa tulu zamanin.

[18] Simak lebih lanjut Ibnu Sina , Tadbiru al-Manazil, (Bagdad: tp. 1929), h. 90

[19] Simak pandangan Abdul Gani Abud. Al-Fikr akl-Tarbawiy ‘Inda al-Gazaliy ; (Kairo : Dar Al-Fikri al-Arabiy, 1982), h. 162

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: