FILSAFAT ILMU DALAM PANDANGAN SAINS SEKULER DAN ISLAM

FILSAFAT ILMU
DALAM PANDANGAN SAINS SEKULER DAN ISLAM
Ismail Rumadan

Pendahuluan
Manusia sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan bila dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain, ia diberi akal dan pikiran untuk membedakan mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Dari keistimewaan inilah menusia diberi gelar sebagai khalifatun fil ardhi yang padanya diberikan penglihatan, pendengaran dan fu’ad. Dengan kelengkapan itu manusia mencoba menggunakannya dalam memahami realitas kehidupan ini dengan sempurna.
Pada tahap manusia menggunakan fasilitas yang Allah berikan itu untuk mencoba memahami ilmu pengetahuan muncullah tipe manusia yang pemahaman secara sekuler dan tipe manusia yang selalu menyandarkan pada qur’ani.
Tipe manusia yang menyandarkan akal, indra, melihat sumber ilmu dari manusia mereka lepas kontrol dengan Allah, dan tipe manusia yang menyandarkan pada wahyu, selalu melihat ilmu itu berasal dari Allah.
Dengan kemajuan cara berfikir filosof sains sekuler dapat berpengaruh pada generasi yang hidup pada zaman global dewasa ini yang kadang menggiring generasi qur’ani pemahaman sekuler. Maka peran para ilmuan Islami yang berfikir qur’ani mempertegas pandangannya tentang sumber ilmu pengetahuan itu dari Allah.

Sumber Ilmu Menurut Sains Sekuler dan Sains Islam

Sains sekuler melihat ilmu dari dua sumber yaitu rasio dan pengalaman yang diperkenalkan aliran rasionalisme dan emperisme. Menurut rasionalisme dengan pendekatan deduktifnya menyatakan didapatkan ilmu itu dari ide, bukan ciptaan manusia. Faham ini biasa disebut idealisme dan faham ini menyatakan dengan penalaran yang rasional bisa mendapatkan satu kebenaran .
Untuk kaum imperealis ilmu itu diketahui lewat satu pengalaman tetapi mereka tidak bisa membuktikan hahekat pengalaman itu, karena alat yang diperoleh manusia itu mempunyai keterbatasan yaitu pancaindra yang ada sangat memiliki keterbatasan.
Selain dua sumber di atas ada juga sumber lain yaitu intuisi yaitu suatu proses kebenaran tanpa melalui belajar lebih dahulu. Jadi sumber ilmu menurut sains sekuler diperoleh melalui hasil usaha maksimal manusia dengan melaui pengamatan dan hasil kerja rasio secara maksimal.
Menurut Imanuel Kant perlu mengkritisi kedua aliran tersebut agar terdapat kenetralan jangan menjadi berat sebelah maka ia muncul dengan aliran kritisisme. Di samping itu Titus menekankan bahwa perlu digarisbawahi pertentangan filosof sains sekuler tentang sumber ilmu, ia menekankan kedua aliran di atas dinilai sebagai sumber pengetahuan yang mungkin. Menurut filsafat sains sekuler ada empat sumber pengetahuan.
1. Orang yang memiliki otoritas.
Filsafat sekuler menempatkan adanya orang yang mendapat otoritas sebagai sumber ilmu yaitu mereka yang karena otoritasnya tepat dan relefan dijadikan sebagai sumber pengetahuan tentang sesuatu hal. Otoritas tersebut didasarkan pada kesaksian yang bisa diberikannya.
Pada zaman modern ini orang yang ditempatkan mendapat otoritas misalnya dengan pengakuan melalui geral, ijazah, hasil publikasi resmi, namun penempatan otoritas sebagai sumber pengetahuan tidaklah dilakukan dengan penyandaran pendapat sepenuhnya. Dalam arti tidak dilakukan secara kritis untuk tetap bisa menilai.
2. Indra
Dalam pandangan filosof sains modern indra adalah peralatan pada diri manusia sebagai salaj satu sumber internal pengetahuan. Untuk mengetahui kemampuan indra bisa diajukan pertanyaan, bagaimana bisa mengetahui besi dipanaskan bisa memuai atau air bisa membeku menjadi es, menurut filsafat sains sekuler terhadap pertanyaan seperti ini indra bisa menjawabnya. Ilmu sekuler mengembangkan prinsip tersebut secara metodis melalui pengamatan terarah dan eksperimen untuk mendapatkan data dari fakta emperik. Untuk mewujudkan hal itu, ilmu sekuler menggunakan peralatan teknologis untuk menjalankan prinsip presepsi indra dalam mempresepsi secara terarah terhadap data, fakta yang relefan.
3. Akal
Dalam kenyataan ada pengetahuan tertentu yang bisa dibangun oelh manusia tanpa harus atau tidak bisa mempresepsinya dengan indra terlebih dahulu manusia bisa membangun pengetahuan. Bertitik tolak dari pandangan seperti ini, maka filsafat ilmu sekuler menempatkan akal adalah salah satu sumber ilmu pengetahuan. Pandangan ini merupakan representasi dari pandangan filsafat rasionalisme yang dalam pandangan moderatnya berpendirian bahwa manusia memiliki potensi mengetahui.
4. Intuisi
Bahwa suatu sumber pengetahuan yang mungkin adalah intuisi atau pemahaman yang langsung tentang pengetahuan yang tidak merupakan hasil pemikiran yang sadar atau presepsi rasa yang langsung. Memahami istilah intuisi dalam arti kesadaran tentang data-data yang langsung dirasakan. Jadi intuii merupakan pengetahuan tentang diri sendiri. Intuisi ada dalam pemahaman kita tentang hubungan antara kata-kata yang membentuk bermacam-macam langkah dan argumen.
Sumber ilmu menurut sains Islam, Islam melihat Allah sebagai maha pencipta dan yang diciptakan sebagai hamba, manusia termasuk yang diciptakan. Maka yang dihasilkan oleh manusia adalah memiliki kelemahan-kelemahan, dengan kekurangan dan kelemahan itu tidak mungkin ia sebagai sumber ilmu.
Dan Allah yang mengajarkan kepada manusia tentang apa yang tidak diketahuinya, dan melengkapi manusia segala perlengkapan dan fasilitas mendengar, melihat, dan hati sebagai timbangan atas apa yang hendak dibuat oleh manusia. Dan Allah sudah tegaskan dalam QS. Al- Nahl (16): 68: Bahwa Allah keluarkan manusia dari perut ibunya masih dengan tidak tahu apa-apa. Pada saat itu Allah melengkapi pada manusia pendengaran, penglihatan agar manusia itu menyadari dan bersyukur atas apa yang diberikan dan pada ayat lain Allah menyuruh manusia itu untuk selalu belajar mencari ilmu, melalui pendidikan. Ini menunjukkan bahwa manusia bukan sumber ilmu tetapi sumber ilmu itu dari Allah.
Pandangan bahwa Allah adalah sumber ilmu tidak berarti bahwa manusia tidak memiliki ilmu tetapi Allah sebagai sumber ilmu yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya, dan Allah melengkapi manusia segala perlengkapan dan jalan yang meniscayakan manusia mengusahakan untuk perolehan ilmu. Dan manusia bisa menjadi jalan bagi manusia lain untuk memperoleh ilmu dan orang seperti adalah orang yang mempunyai otoritas yang diperoleh dari Allah sebagai jalan bagi manusia lain untuk memperoleh bagian kecil dari ilmu Allah yang banyak itu. Maka tidak mungkin manusia menjadi sumber ilmu.
Untuk mempetegas bahwa Allah sebagai sumber Ilmu dapat kita lihat pada beberapa firman Allah sebagai berikut;
1. QS. al Hasyr (59) :22 yang artinya “Dia-lah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Mengetahui yang gaib maupun yang nyata Dia Maha pemurah lagi Maha Penyayang.
2. QS. al Thalaq (65) : 12, artinya “ Dan sesungguhnya Allah ilmunya meliputi segala sesuatu”.
3. QS. al Nahl (16) : 78, artinya: “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati supaya kamu bersyukur”.
4. QS. al Nahl (16) : 82, yang artinya: “Dan Kami turunkan kepada kamu al-Kitab untuk menjadi penjelas atas segala sesuatu”.
Dari beberapa ayat tersebut di atas dapat ditarik beberapa makna sebagai berikut:
1. Bahwa manusia tidak membawa pengetahuan sejak lahir karena itu tidak mungkin menempati posisi sebagai sumber ilmu. Sesuatu yang ada pada mulanya tidak memiliki tidak mungkin menjadi sumber, karena ia juga hanya berposisi sebagai yang memperoleh.
2. Pada hakekatnya hanya Allah lah yang mengetahui dan manusia pada hakekatnya tidak mengetahui.
3. Perolehan ilmu oleh manusia adalah perolehan dengan perantaraan, yakni segala perantara (bil) yang memasukan qalam sebagai perwujudan Allah mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.

Pandangan Ontologi Sekuler dan Islam

Menurut pandangan sekuler, kalau berbicara masalah ontologi, adalah bicara sesuatu yang reslitas, maka dipertanyakan apa sebenarnya dengan kenyataan itu. Maka yang dicari adalah hakekat dari kenyataan itu .
Unutk menjawab ini ditampilkan tiga aliran
1. Naturalisme
Berpendapat bahwa hakekat dari kenyataan itu adalah bersifat alam, yaitu kekuatan yang ada pada satu tempat yakni ruang dan waktu, dan berkesimpulan bahwa apa saja yang bersifat alam adalah berada pada ruang dan waktu.
2. Materialisme
Berpendapat bahwa sesuatu yang dinyatakan nyata pasti berawal dari materi. Inti pendapatnya hakekat yang terdalam bertitik tolak dari satu pendangan yang sama, yaitu kenyataan terdalam adalah bersifat materi.
3. Positifisme
Menyatakan pernyataan-pernyataan metafisis tidak mengandung makna, karena tidak dapat dipertanggungjawabkan tapi untuk mengetahui hakekat sesuatu ilmu itu keadaan dan diperifikasi.
Menurut pandangan Islam (Qur’an), segala sifat yang lekat, untuk memahamiu hakekat sesuatu yang difahami selama ini hanyalah akibat dari kerendahan diri bagi ciptaan Allah.
Dengan tidak melepaskan diri dari landasan al-Qur’an dapat dikatakan bahwa sejauh kita akan berbicara mengenai hakekat realitas yang diciptakan Allah selama ini, maka harus berangkat dari sati keyakinan yang mendalam bahwa Allah yang menciptakan sesuatu dan Allah-lah yang lebih mengetahui hakekat ciptaan-Nya.
Fuad Rumi dari segi lain tentang realitas ciptaan Allah adalah suatu realitas yang tidak bisa dipungkiri, hanya dapat dialami dan dirasakan karena ia sebagai satu tatanan. Dan tatanan itu adalah suatu cara yang bisa terwujud bila terdapat hukum-hukum universal teratur secara sistimatis. Hukum-hukum universal itu, tidak mungkin merupakan hasil dari suatu ciptaan, dan tak mungkin yang dicipta menciptakan sesuatu yang universal dan teratur, tapi kalau itu terjadi adalah suatu kebetulan. Keterciptaan manusia adalah dilalui oleh ketidak adaannya, karena itu salah satu implikasinya ialah mahkluk tidak berkualitas abadi, sebab yang abadi hanyalah yang mencipta (Allah).
Dari petunjuk ini, maka standar yang digunakan untuk memahami hakekat realitas tidak bisa secara eksrim menggunakan satu untuk memahami seluruh yang ada.
Menurut Naquib al-Attas Keadaan yang dimiliki semua yang ada dalam beragam tingkat eksistensi, dan walaupun tingkat eksistensi merupakan bahan pembentuk realitas, sebenarnya yang membuat sesuatu yang menjadi dirinya sendiri bukanlah apa yang dimilikinya atau berlaku baginya, tetapi sesuatu yang membedakannya dari yang kita maksudkan sebagai keunikan kedianian.
Untuk melihat hakekat realitas dalam pemahaman kita sehari-hari harus berawal dari al-Haq, sebagai kebenaran mutlak.
Pandangan Epistimologi Islam dan Sekuler
Menurut Jujun S. Sumantri Teori pengetahuan atau epistemologi ilmu yaitu pembahasan secara mendalam oleh manusia agar memproleh ilmu pengetahuan. Ilmu itu meruakan pengetahuan yang diperoleh melalui satu proses tertentu yang disebut metode ilmiah.
Jadi yang penting adalah asal usul pengetahuan dimana peran pengalaman dan akal dalam mencari ilmu.
Rizal Mustansir menyatakan struktur pikiran dalam mencermati ilmu itu dengan tahapan-tahapan:
1. Mengamati, yaitu mengamati obyek-obyek.
2. Menyelidiki, yaitu melihat keterkatan obyek yang dikondisikan oleh jenis obyek yang tampil.
3. Percaya, yaitu obyek nampak sebagai satu pengertian yang memadai setelah keragaman dinamakan kepercayaan.
4. Maksud, yaitu mempunyai kemauan menyelidiki dan hasrat mengetahui sekaligus perasaannya tidak berbeda bahkan terdorong ketika melakukannya.
5. Mengatur, yaitu satu kesadaran terhadap suatu kondisi dan fungsi mengetahui secara bersama.
6. Menyesuaikan, yaitu menyesuaikan pikiran sekaligus pembatasan-pembatasannya yang dibebankan pada pikiran melalui kondisi keberadaan yang terdakup dalam otak dan tumbuh dalam fisik dan biologis.
7. Menikmati, yaitu keasikan pikiran yang menekuni satu persoalan yang menikmati dala, pikirannya.
Menurut Islam bahwa sumber pengetahuan meletakkan dasar pertama bagi manusia, bahwa dalam memperoleh ilmu pengetahuan harus memperoleh petunjuk al-Qur’an sebagai referensi utama. Sebab melalui penggunaan al-Qur’an itulah, indikasi pertama dari konsistensi pandangan bahwa Allah sebagai sumber pengetahuan apat dilihat.
Al-Qur’an sebagai pandangan epistimologi adalah merupakan suatu konsistensi Qur’an. Sumber ilmu pengetahuan yakni Allah adalah sumber pengetahuan, dalam konteks ilmu al-Qur’an adalah petunjuk dari sumber pengetahuan yang ditujukan pada manusia untuk berilmu. Dalam Al-Qur’an (ayat 1-5) surat al-Alaq, bahwa Allah mengajarkan pada manusia dengan melalui qalam.
Menurut Fuad Rumi ayat itu dapat dipahami secara episte,ologi bahwa manusia potensial memperoleh pengetahuan karena kesempurnaan Allah . Dalam hal ini bukan berarti bahwa Allah memberikan ilmu itu pada tangan manusia tetapi manusia dengan langkah-langkah yang maju dan positif berusaha dengan metode dan cara yang bebeda-beda untuk memperoleh ilmu.
Kalimat bil qalam dalam ayat ini adalah mengandung makna bahwa potensial manusia yang mempunyai ilmu dan kesempatan dapat dilakukan dengan suatu proses yang dalam proses itu ditempuh langkah-langkah dengan peralatan yang ada pada dirinya maupun yang ada di luar dirinya untuk ilmu itu diperoleh.
Untuk memperoleh ilmu itu dapat diakui melalui dua jalan, yaitu indra lahiriah dan indra batiniah. Fuad Rumi bahwa:
1. Indra lahiriah mempresepsi fenomena alam sebagai fenomena fisik. Misalnya benda, unsur, warna dan sebagainya.
2. Fu’ad sebagai indra qalbun mempresepsi terwujudnya kualuitas diri sifat-sifat Allah pada obyek alam fisik tersebut.
Namun dapat ditekankan bahwa bila potensi indra lahiriah manusia itu berkembang secara alami, maka indra batiniah bisa berkembang bila diasah dengan zikir dan qalbun harus bersih sehingga yang muncul adalah kualitas yang bersih, keberhasilan itu diperoleh melalui ketaatan beribadah, karena dengan ketaatan beribadah itu mempunyai keterkaitan dengan keilmuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ilmu itu dapat diperoleh harus dengan kebersihan hati, yang diperoleh dengan kualitas ibadah yang tinggi.
Pandangan Aksiologi Ilmu dan Islam
Ilmu telah banyak mengubah dunia dan menyelamatkan manusia, merangsang manusia untuk untuk bisa mewujudkan sumbe energi bagi manusia, tapi pada pihak lain bisa sebaliknya, yaitu bisa membawa manusia pada pembuat bom atom, senjata nukir, yang menimbulkan pula malapetaka. Usaha memerangi kuman yang membunuh manusia sekaligus menghasilkan senjata kuman yang dipakai sebagai alat untuk membunuh sesama manusia sehingga Einstein menyatakan bahwa dalam peran ilmu pengetahuan kita saling meracun dan menjanggal. Dalam perdamaian dia memberikan hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu, mengapa ilmu yang amat indah itu, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita. Sementara ilmu itu suatu kekuasaan, ilmu itu sendiri bersifat netral, tpi tergantung pada si pengguna ilmu itu yang menempuh jalan baik atau buruk. Maka seorang yang memiliki ilmu harus memiliki moral yang kuat, tanpa landasan moral yang kuat seorang ilmuan akan lebih merupakan seorang tokoh penuh ilmunya tapi tiada manfaatnya.
Aksiologi Islam mengajarkan kepada manusia bahwa tujuan utama manusia dalam hidup ini adalah ibadah. Artinya segala yang dilakukan dipergunakan sebagai ibadah. Maka Islam mengajarkan lebih rinci lagi:
1. Tiap melakukan sesuatu harus diniatkan ibadah kepada Allah.
2. Cara melakukan sesuatu itu diridhai Allah.
3. Hasil kerja itu harus bermanfaat untuk manusia dan makhluk lain.
Tujuan ilmu dalam Islam yang demikian, proses ilmu itu harus dimulai diniatkan untuk ibadah kepada Allah. Pada saat ilmu itu mau digunakan harus benar-benar dilihat kemanfaatannya buat manusia. Pada saat ilmu mau diperoeh harus berdasarkan qur’ani. Dengan demikian ajaran Islam sangat memperhatikan nilai, ilmu sebenarnya tidak diletakkan pada nilai-nilai ilmiah belaka dan nilai kegunaan semata, tetapi nilai etik dan nilai ibadah, bahkan untuk mewujudkan hal itu harus berpangkal pada suatu nilai utama yaitu nilai tauhid akan menurunkan nilai lain.
Analisis
Sumber ilmu menurut science sekuler adalah berasal dari orang yang memiliki otoritas, akal, pancindra dan intuisi semuanya berasal dari diri manusia, ternyata memiliki kelemahan sesuai dengan kelemahan manusia itu sendiri. Karena Allah menyatakan yang diberikan kepada manusia itu sedikit sekali dari yang banyak Allah miliki. Tetapi Allah akui manusia dengan kelemahannya tapi berani memikul yang berat, bahkan ia melebihi malaikat. Kemampuan manusia dalam menangkap isyarat-isyarat Allah itulah para ilmuan sekuler menyatakan sumber ilmu itu dari manusia. Kemampuan manusia itu menurut Ibnu Sina Menyatakan bahwa manusia mendapatkan tahapan pancaran dari Allah, intelegensi pertama tidak selamanya mutlak satu, karena ia ada bukan dengan sendirinya. Karena intelegensi pertama memunculkan kemampuan dan intelegensi kedua melalui kebaikan yaitu ego tinggi dari adanya aktualitas.
Dari segi kemampuan semacam inilah science sekuler menilai manusia sebagai sumber ilmu karena science sekuler melihat yang nampak saja, yang bisa dijangkau oleh indra manusia dan itu harus diakui kebenarannya, walaupun kebenaran itu menurut agama tidak tepat.
Mengenai hakekat ilmu pengetahuan, science sekuler, melihat dengan beberapa pandangan beberapa aliran, yaitu aliran hukum alam, yang menyatakan ilmu itu hakekatnya bersifat kealaman, yaitu membeli metode ilmiah. Aliran lain menyatakan hakekat ilmu adalah yang bersifat materi, yang bukan materi itu bukan hakekat. Sebab hakekat itu tidak mungkin ada kalau tidak dengan melalui yang ada. Sementara aliran lain menyatakan hakekat adalah bersifat rohani atau spritual, aliran ini mencoba melihat yang gaib, hanya tidak menyatakan yang gaib itu dimana.
Dari gambaran science sekuler melihat hakekat ilmu seperti ini karena asumsi dasarnya lepas dari keyakinan adanya Tuhan. Pandangan mereka itu dibenarkan oleh ilmu-ilmu sekuler saja, sementara dinilai dengan pendekatan agama maka kebenaran itu hanya sebatas cara dan kemampuan akal mereka. Sehingga tidak memiliki kekuatan untuk bertahan lama, karena pasti dikalahkan oleh akal-akal ilmuan yang akan muncul dibelakang hari. Beda dengan kebenaran agama dia tetap utuh dan bertahan lama serta semakin diuji semakin menunjukkan kebenarannya.
Dari segi epestimologi ilmu bahwa ilmu itu diperoleh dengan obyek empiris yang dilakukan oleh ilmuan-ilmuan, itu sendiri tidak bisa mengaplikasikan ilmu itu dengan perilakunya. Sebagai seorang ilmuan, maka dapat dikatakan profesi ilmuan sulit memproyeksikan keilmuannya dengan kedekatannya. Hal itu terjadi kaena ia tidak melahirkan ilmu sendiri, tetapi menciplak dari pikiran-pikiran dasar ilmuan sebelumnya. Karena mungkin kedekatan ilmuan sebelumnya dengan jalan dan metode yang berbeda akhirnya menyesuaikan diri pada aplikasi ilmu itu sendiri.
Sementara epestimologi Islam ini jelas pendekatannya karena pertama-tama mengakui dari yang satu Allah dan diperkuat dengan keyakinan bahwa manusia kelemahan, dan metode yang digunakan bersumber dari wahyu, dan diketahui wahyu dibawah oleh makhluk lain kemudian para makhluk yang lain itu dapat mengineterprestasikan dengan etode yang khusus. Yaitu cara-caranya harus menguasai bidang-bidang ilmu lain, agar dapat memahami dengan benar wahyu yang dibawakan oleh utusan itu.
Aksiologi dapat diakui bahwa banyak mengubah pandangan-pandangan keduanya dengan hasil-hasil yang diperoleh Rasyid Mansir dan beapa banyak yang merasakannya, namun di sisi lain betapa banyak juga yang menderita dari hasil yang diperoleh ilmu itu.
Maka untuk memberikan kelegaan bagi manusia harus memiliki nilai-nilai yang diperoleh dari ilmu itu, karena dengan nilai yang benarlah bisa memberikan kesengan pada manusia. Nilai yang benar dirasakan manusia adalah nilai-nilai amaliah yang berorientasi ibadah, karena dengan ibadalah ilmu akan menyadari dirinya sebagai yang diciptakan dan dia yakin bahwa satu saat pasti dia memeprtanggungjawabkan hasil usahanya.
Penutup
1. Sains sekuler melihat sumber ilmu itu dari manusia diperoleh dengan jalan mengendalikan rasio dan pengalaman yang dilaluinya, untuk sempurnanya pendapat ini menurut sains sekuler, ada empat sumber ilmu, yaitu orang yang memiliki otoritas karena dengan otoritasnya orang bisa mendapat ilmu, kedua indra, karena dengan indra menjadi sumber ilmu pengetahuan. Ketiga akal, akal sebagai sumber ilmu, karena dengan akal sumber ilmu tertentu bisa dibangun. Keempat intuisi, ada orang yang memiliki pengetahuann dengan tidak melalui proses belajar.
2. Menurut sains Islam, menyatakan sumber ilmu itu dari Allah. Karena bertolak dari wahyu dan sains Islam membedakan pencipta dan yang diciptakan. Sehingga yang diciptakan diposisikan pada posisi lemah, maka yang dihasilkan manusia pasti memiliki kelemahan dan keterbatasan, karena Allahlah yang mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahuinya. Dari pandangan bahwa sumber ilmu bukan berarti bahwa manusia tidak memiliki ilmu tetapi Allah akan mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahuinya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim, 1976, Jakarta, Bumi Restu
Rumi, Fuad. Filsafat Ilmu Ujungpandang : tp, 1999
Mustansir, Rizal. Filsafat Ilmu Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001
Soejono Marjono, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta. PT. Tiwara, 1997,
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta, 1999,
M.M. Syarif, Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1994
Jujun S. Suasumantri, 1999, Ilmu Dalam Perspektif (Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu), Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
———, 1996, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Sinar Harapan, Jakarta

Satu Balasan ke FILSAFAT ILMU DALAM PANDANGAN SAINS SEKULER DAN ISLAM

  1. ajay mengatakan:

    bagusssssssssss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: