KONSEP PEMERINTAHAN ISLAM IMAM KHOMAINI

KONSEP PEMERINTAHAN ISLAM IMAM KHOMAINI
oleh : H. M. Attamimiy
IFTITAH
Dalam al-Qur’an Nabi saw., disebut sebagai uswat hasanah (suri teladan yang baik) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah swt., …. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad saw. itu dapat dicontoh/ditiru oleh setiap orang yang berkeinginan untuk mendapatkan keridaan Allah swt.

Nabi Muhammad saw., diutus oleh Allah swt., dengan memiliki dua realitas, yaitu realitasnya sebagai Nabi dan Rasul, dan realitasnya sebagai manusia. Dalam konteksnya sebagai manusia, maka Nabi saw., dapat ditiru dan dicontoh dalam semua segi kehidupannya, tapi tidak demikian realitasnya sebagai Nabi dan Rasul yang menerima wahyu dari sisi Allah swt.
Sebagai manusia, Nabi saw., sering tampil dengan “wajah yang berbeda-beda.” Satu saat Nabi saw tampil sebagi panglima perang, tapi saat yang lain Nabi tampil sebagai kepala negara yang memegang kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, yang merujuk kepada syari’at atau hukum-hukum Allah swt., yang diterimanya melalui wahyu dari sisi Allah swt.
Agaknya kekuasaan Nabi Muhammad saw yang absolut tersebut mendapat pembenaran dari sisi Allah sendiri, bahwa apa yang dibawa oleh Nabi saw, harus dipegang teguh dengan penuh kesungguhan dan apa yang dilarang oleh Nabi saw., itu harus itu harus dijauhi, atau pembenaran dari ayat al-Qur’an bahwa tidak patut bagi orang-orang yang beriman memiliki ketetapan selain ketetapan yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Garis yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya itu diteladani juga oleh al-Khulafa al-Rasyidun, yang juga menggunakan syari’at Allah swt., sebagai landasan berpijak dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di saat mereka memegang kendali pemerintahan di saat itu, dimana kekuasaan eksekuti, legislatif, dan yudikatif juga berada di tangan mereka. walaupun demikian bukan berarti bahwa asas musyawarah untuk mencapai mufakat, mereka abaikan, sebab asas musyawarah untuk mendapatkan persetujuan bersama dalam mengambil suatu keputusan, juga merupakan perintah syari’at Allah swt itu sendiri. . Selain itu bahwa keberadaan mereka sebagai khalifah adalah untuk melanjutkan pelaksanaan syari’at Allah yang ditinggalkan itu.
Setelah periode Nabi muhammad saw., dan para al-Khulafa al-Rasyidun berlalu, tampaknya tidak ada lagi pemerintahan Islam yang bernafaskan syari’at Allah swt., walaupun mereka menamakan diri sebagai daulat Islamiyah. Memang harus diakui bahwa ada usaha-usaha dari beberapa organisasi Islam seperti al-Ikhwan al-Muslimun, yang berusaha untuk mendirikan negara Islam di Mesir, dan al-Qur’an dijadikan sebagai dasar negara, tapi usaha-usahanya mendapat banyak tantangan dan hambatan, sebelum berhasil mewujudkan cita-citanya itu.
Imam Khumaini sebagai seorang ulama agaknya bercita-cita untuk mendirikan suatu pemerintahan Islam yang mengacu kepada syari’at Allah swt., seperti yang pernah diterapkan pada zaman Nabi Muhammad saw., obsesi Imam Khumaini ini tampaknya memang berhasil yang ditandai dengan ditumbangkannya pemerintahan Syah pada tahun 1978. Keberhasilan Imam Khumaini ini membuka jalan baginya untuk menerapkan syari’at Allah dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Iran, dengan konsep yang ditawarkannya yaitu konsep Wilayat al-Faqih.
Biografi Imam Khumaini
Khumaini dilahirkan pada tanggal 24 – Oktober – 1902 di Iran Tengah pada sebuah desa yang bernama Khumaini. Nama desa kelahirannya ini agaknya yang dinisbatkan kepadanya, sehingga ia lebih sering dipanggil dengan nama desa kelahirannya itu. Tampaknya nama yang disandangnya sejak kecil adalah “Rohullah”. Sedangkan al-Musawiy adalah merupakan nama keluarga yang dinisbatkan kepada Musa al-Khasim (Imam ketujuh Syi’ah), yang juga keturunan Nabi Muhammad saw.
Adapun “Imam” yang ada di depan namanya adalah merupakan gelar yang diberikan kepada orang yang ahli dalam hukum Islam (fiqh al-Islam), dan biasanya dipakai secara umum di dunia Islam, baik sunni, ataupun syi’ah. Imam tipe ini berbeda dengan Imam dalam shalat. Ayatullah adalah merupakan gelar yang secara khusus yang diberikan kepada seseorang yang telah mencapai tingkat ilmu tertinggi dalam tradisi syi’ah. Dengan demikian dapat dipahami bahwa nama lengkapnya adalah Ayatullah al-Imam Rohullah al-Musawiy al-Khumainiy.
Seperti banyak anak dewasa itu, Khumainiy telah belajar dengan disiplin yang tinggi, baik di sekolah negeri ataupun di “Maktab” (tempat belajar dan menulis dalam bahasa arab) yang dipimpin langsung oleh seorang Mullah. Di maktab inilah Khumainiy diajar bahas Arab, menghafal al-Qur’an, hadis-hadis Nabi Muhammad saw., dan juga sejarah hidup para Imam, serta sejarah Islam versi syi’ah.
Pada saat Khumaini berusia lima belas tahun, ia mulai belajar kaidah bahasa arab, menyusun syair Persia dan klasik, dengan penekanan pada syair tentang moral dan etika. Selain itu ia juga belajar tentang mistisisme.
Kehausan terhadap ilmu pengetahuan menyebabkan Khumaini memutuskan untuk meninggalkan kota kelahirannya dan selanjutnya ia pergi ke Isfahan untuk menuntut ilmu pada seorang Ayatullah yang sangat terkenal pada saat itu, yakni Ayatullah Abd al-Karim Haeri Yazdi. Ketika gurunya ini diundang untuk pindah ke kota Qum, Khumaini pun ikut bersamanya.
Di kota Qum Khumaini belajar dari seorang Ayatullah yang bernama Muhammad Reza Masjed Syahi, tentang retorika dan syair serta kritik terhadap filsafat evolusi Darwin. Selain itu ia juga belajar fiqh dan ushul fiqh dari seorang Ayatullah yang bernama Ali Yasrebi Kasyani. Setelah itu Khumaini mengikuti kuliah pada kelas Ayatullah Khaeri yang mengajar Dars-e Kharej (studi di luar teks). Dalam kelas ini tidak ada buku pegangan, para mahasiswa berupaya untuk membentuk pendapatnya sendiri tentang soal-soal hukum. Ini merupakan tahap akhir pendidikan Khumaini. Pada awal tahun 1930, ia telah menjadi seorang mujtahid dan mendapat ijazah untuk menyampaikan hadis dari empat orang guru terkemuka. Masing-masing adalah Muhsin Amin ‘Amali, Syaikh ‘Abbas Qumi, Abul Qasim Dehkordi Isfahani, dan yang keempat adalah Muhammad Reza Majed Syahi.
Keempat guru yang memberi ijazah kepada Khumaini tersebut tampaknya mereka bukan hanya sebagai ulama tetapi juga sebagai pejuang. Hal ini dapat dilihat dari betapa gigihnya mereka dalam menentang kebijakan anti Islam yang dilakukan oleh Reza Syah yang berkuasa pada saat itu. Sikap para gurunya itu agaknya berpengaruh juga pada diri Khumaini di kemudian hari yang tampil bukan hanya sebagai ulama, tapi juga sebagai seorang politisi dan pejuang. Hal ini telah dibuktikannya pada revolusi Pebruari 1978.
Upaya Mewujudkan Wilayat al-Faqih
Sejak usia muda Imam Khumaini telah dikenal sebagai seorang yang berpendirian teguh dalam melawan segala bentuk kezaliman. Sikapnya ini dapat dilihat dari tulisan-tulisannya yang banyak mengecam rezim yang berkuasa pada saat itu. Dengan sikapnya ini maka iapun diusir dari Iran pada tahun 1964 ke Irak, dan dari Irak ke Prancis sampai tahun 1978.
Islam dalam pandangan Khumaini bukan hanya agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tapi juga agama yang penuh dengan kemanusiaan dan agama kaum pejuang yang mendambakan keadilan dan kebenaran, bahkan bukan hanya sekedar itu; Islam menurut Khumaini juga merupakan agama yang ingin melakukan pembebasan dari setiap bentuk penindasan.
Tampaknya Khumaini ini tidak seperti kebanyakan ulama yang hanya berbicara tentang nikmat surga dan siksa neraka. Khumaini tampaknya selangkah atau beberapa langkah lebih maju. Ia selalu berbicara tentang kesadaran umat dalam beragama, disiplin diri dan sebab-sebab kemunduran dalam Islam.
Tema-tema tersebut oleh kebanyakan ulama pada saat itu memang kurang disentuh atau bahkan tidak disentuh sama sekali. Karena pada saat itu Reza Syah menerapkan politik “pembungkaman” terhadap para ulama dan ilmuwan yang dianggap mengganggu “kebijakan-kebijakan” yang diterapkan.
“Kebijakan” Reza Syah tersebut bukan hanya pada tahap pembungkan mulut para ulama, tapi justru ia melangkah lebih jauh dengan politiknya yang sangat anti kepada ulama, sehingga sebagian besar ulama pejuang merasa tidak ada pilihan lain kecuali tunduk. Suatu sikap yang dibenarkan oleh gagasan Taqiyah dalam syi’ah untuk melindungi Islam ketika muslim menghadapi bahaya yang tidak mungkin diatasinya.
Walaupun pada saat itu Khumaini termasuk orang yang ikut bertaqiyah dalam menghadapi “kebijakan” rezim yang berkuasa, namun setelah perang dunia kedua ketika Reza Syah tidak lagi berkuasa Khumaini mulai mengeluarkan statmen politiknya agar bangsa Iran mau bangkit untuk menentang rezim yang korup dan zalim pada saat itu. Karena ia (Khumaini) dari kalangan ulama, maka tidak heran bila perkataan politiknya itu ia keluarkan dengan mengutip ayat al-Qur’an dengan menafsirkannya secara konstektual, tidak secara tekstual. Ayat yang dikutip itu adalah : “Aku nasehatkan kepadamu satu hal, yaitu : agar kamu bangkit demi Allah, baik bersama-sama atau pun sendiri-sendiri. Menurut Khumaini bahwa bangsa yang tidak bangkit demi Allah, maka bangsa itu akan gelap masa depannya dan akan menjadi dominasi bangsa lain.
Pernyataan politiknya agar rakyat bangkit untuk melawan pemerintah tersebut, didasari dengan keyakinannya bahwa politik sama dengan filsafat, tasawuf, dan fiqh, serta ilmu-ilmu keIslaman lainnya yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Islam. Bahkan menurut Khumaini bahwa politik dan agama itu merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Atas dasar itulah maka Khumaini mendesak para ulama agar berusaha untuk mendirikan negara Islam, dengan cara mengembang tugas dan tanggung jawab posisi eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Apa yang dikemukakan oleh Khumeni tersebut agaknya merupakan upaya untuk mewujudkan tujuan idealnya dalam rangka mewujudkan negara Islam yang dicita-citakannya, yaitu negara yang pemerintahannya secara konsekuen mau menjalankan seluruh aturan (syari’at) Allah, segala macam aturan yang bertentangan dengan syari’at, menurut Khumaini harus digugurkan, karena han ya aturan Allah sajalah yang tidak pernah berubah, sekalipun zaman terus berubah.
Untuk mewujudkan hukum (Syari’at) Allah itu, menurut Khumaini harus ada satu pemerintah. Bentuk dari pemerintah itu tidak perlu dipersoalkan, yang penting adalah bahwa seluruh hukum (Syari’at) Allah dapat diterapkan dengan baik dan benar. Apabila suatu pemerintahan berbentuk monarkhi, maka raja atau kaisarnya (menurut Khumaini), harus diangkat oleh mujtahid, yang memilih seorang raja yang tidak menyimpang dari hukum-hukum Allah, seorang raja yang tidak menindas, tidak melanggar hak milik, jiwa dan kehormatan orang.
Dengan mengatakan bahwa kepala pemerintah harus diangkat oleh Mujtahid maka tampaknya Khumaini ingin menerapkan konsep Wilatullah faqih (pemerintahan faqih), yakni seorang yang ahli dalam hukum-hukum Allah yang harus dilaksanakan oleh pemerintah. Menurut Khumaini bahwa para faqih (ahli hukum) adalah orang-orang yang memerintah para penguasa/raja. Oleh karena itu penguasa atau raja yang baik (saleh) hendaknya meminta ahli hukum (faqih) untuk memberitahu hukumnya sebelum ia menjalankan hukum itu.
Dari sini dapat dipahami bahwa kekuasaan yang sesungguhnya, sebenarnya berada di tangan para ahli hukum (faqih) yang memberi perintah bukan ditangan penguasa atau raja. karena ahli hukum atau faqih itu adalah seorang manusia biasa, bukan Imam atau Nabi yang terpelihara dari dosa dan kesalahan, bila melakukan pelanggaran atas hukum atau syari’at Allah itu, maka ia tidak perlu diikuti dan harus dipecat dari kedudukannya sebagai faqih.
Dari penjelasan tersebut di atas agaknya konsep (wilayah al-faqih) yang ditawarkan oleh Khumaini dalam rangka mendirikan negara Islam, merupakan perpanjangan tangan dari hukum-hukum Syari’at yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul sertya para Imam yang suci. Hal ini dapat dilihat dari realitas sejarah bahwa ditangan Nabi dan Rasul serta Imamlah segala bentuk hukum dan perundang-undangan dirujukan. Dengan demikian, tidaklah berlebihan bila disebutkan bahwa Wilayah al-Fiqih adalah merupakan manifestasi dari pemerintahan tuhan di bumi. Hal ini sejalan dengan kata-kata Khumaini bahwa pemerintahan Islam didasarkan pada syari’at Islam yang datang bukan dari rakyat, maupun wakil-wakilnya, tapi langsung dari Allah swt.,
Karena konsep Wilayah al-Faqih tersebut adalah merupakan perwujudan dari hukum syari’at, maka secara otomatis sang Faqih adalah seorang yang memegang kekuasaan tertinggi dibidang kenegaraan dan bidang pemerintahan serta dibidang keagamaan.dengan demikian mentaati dan mengikuti sang Faqih sama juga dengan mentaati dan mengikuti Syari’at Allah itu sendiri. Sebab men urut Khumaini bahwa seorang Faqih adalah penerus para Imam, dan para Imam adalah penerus atau wakil Allah di bumi yang bertugas untuk merealisir syari’at Allah dibumi. Atas dasar itu maka tampaknya negara yang ingin dibangun oleh Khumaini adalah suatu negara yang sangat ideal, suatu negara yang di dalamnya hanya berlaku syari’at/hukum Allah seperti pernah diberlakukan pada zaman Nabi Muhammad saw.,
Betapapun idealnya konsep Wilayah al-Faqih yang ditawarkan oleh Imam Khumaini, namun sejauh ini konsep tersebut telah diwujudkannya di Iran dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dalam rangka menciptakan suatu kehidupan sosial kemasyarakatan yang sesuai dengan syari’at/hukum Allah itu sendiri. Walaupun memang harus diakui bahwa Khumaini dengan konsep Wilayah al-Faqihnya itu banyak mendapat tantangan dari kalangan sunni dan juga dari beberapa Ayatullah dari golongan syi’ah sendiri. Namun sebegitu jauh Khumaini dengan konsep Wilayah ai-Faqihnya telah membawa Iran keluar dari rezim Syah yang korup dan zalim dan menatap kehidupan yang lebih Islami selama lebih dari sati dasawarsa (1978-1988). Suatu bukti bahwa konsep Wilayah ai-Faqihnya dapat “memuaskan” paling tidak bagi masyarakat/rakyat Iran itu sendiri.
Khatimah
Bila Nabi saw mendapat bimbingan dari Allah swt berupa wahyu yang disampaikan kepada beliau, maka para sahabatnya mendapat bimbingan secara langsung dari Nabi saw., berdasarkan wahyu yang diterima itu. Sehingga seluruh aspek kehidupan Nabi saw mulai hal-hal yang paling kecil seperti memberi salam, sampai kepada masalah-masalah yang besar, seperti mengurus dan mengatur negara, semuanya diikuti oleh para sahabat beliau yang setia.
Generasi yang datang kemudian, berusaha juga sekuat tenaga untuk meneladani apa yang telah dicontohkan oleh Nabi saw., itu, baik dengan berusaha mendirikan suatu negara, seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi saw di Madinah, atau hanya sekedar mendirikan organisasi yang tujuan akhirnya adalah membentuk suatu pemerintahan yang berdasarkan syari’at Allah. Usaha para pengikut Nabi saw itu ada yang berhasil, dan tidak sedikit yang gagal ditengah jalan.
Di antara yang berhasil itu adalah Imam Khumaini di Iran. Ia bukan hanya berhasil mendirikan sebuah pemerintahan Islam, tapi juga berhasil menumbangkan rezim yang zalim dan korup yang sedang berkuasa pada saat itu. Khumaini menawarkan suatu konsep pemerintahan Islam yang agaknya memang baru, yang disebut dengan Wilayah ai-Faqih, yang intinya adalah suatu pemerintah yang berdasarkan kepada hukum hukum Allah dan sekaligus merupakan perpanjangan tangan dari misi yang diembang oleh Nabi saw dan para Imam. Karena Imam yang kedua belas (Imam Mahdi), kini sedang gaib maka para faqihlah yang bertugas sebagai Naib al-Imam (pengganti Imam) untuk menjalankan roda pemerintahan Islam yang berdasarkan syari’at seperti yang pernah dicontohkan pada zaman Nabi Muhammad saw. selama mereka Naib al-Imam itu secara konsekuen menjalankan hukum-hukum Allah maka selama itu pula ia wajib diikuti dan ditaati. Bila faqih (Naib Imam) itu melanggar hukum-hukum Allah, maka ketaatan kepadanya gugur dengan sendirinya.

DAFTAR PUSTAKA

Mahmud, Ali Abd al-Halim. Manhaj al-Tarbiyah inda al-Ikhwan al-Muslimun, jilid I. Diterjemahkan oleh Syafril Halim dengan judul Ikhwanul Muslimun; Konsep Gerakan Terpadu Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1997
Mortimer, Edward. The Politics of Islam. diterjemahkan oleh Anna Hadi dan Rahman Astuti dengan judul Islam dan Kekuasaan Bandung: Mizan, 1984
Muzaffari, Mehdi, Authority in Islam. Diterjemahkan oleh Abdurrahman Ahmed dengan judul Kekuasaan dalam Islam Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994
Rahman, Budhy Munawwar. (ed.) Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah Cet.; Jakarta : Yayasan Waqaf Paramadina, 1995
Rahmena, Ali. Pointers of Islamic Revival. Diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul Para Printis Zaman Baru Islam Bandung: Mizan, 1996
Rais, M. Amin. Cakrawala Islam; antara Cita dan Fakta Bandung: Mizan, 198
Al-Thabathabai, Islamic Teachings; an Overview. Diterjamahkan oleh Ahsin Muhammad dengan judul Inilah Islam Jakarta: Pustaka Hidayah, 1992

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: