PENERAPAN TEORI COMMUNITY DEVELOPMENT PASCA KONFLIK DI KOTA AMBON

PENERAPAN TEORI COMMUNITY DEVELOPMENT
PASCA KONFLIK DI KOTA AMBON
Arifin M.
Pendahuluan
Konflik yang baru saja usai di propinsi Maluku secara umum dan khususnya di kota Ambon yang memakan waktu lebih kurang 4 tahun, yaitu 19 Januari 1999 dan sampai hari ini ekses dan dampaknya masih terasa, tidak memakan hanya korban yang mencapai angka + 13.428 jiwa. Tetapi juga korban fisik dan harta benda seperti rumah, kendaraan juga barang-barang, sarana dan prasarana lainnya, telah mengalami kerusakan yang sangat parah, menurut perkiraan, perumahan yang masih utuh di kota hanya tinggal 5% saja.
Kondisi yang demikian parah tersebut telah mengakibatkan terjadinya gelombang eksodus, baik yang keluar propinsi seperti Buton dan Makassar, maupun dalam propinsi Maluku sendiri, di samping juga ada pengungsi di areal kota Ambon sendiri, yaitu masyarakat yang rumahnya berada pada komunitas mayoritas tertentu. Misalnya orang Islam yang letak rumahnya di tengah-tengah mayoritas Kristen maka dipastikan rumahnya dibakar atau dirusak, dan pemiliknya akan pindah kepada kelompok yang aman baginya (tempat muslim mayoritas) begitu pula sebaliknya.
Akibat lain dari kerusuhan adalah kemiskinan baik karena kehilangan tempat usaha atau lahan tempat tinggal, juga masalah psikologis (trauma) berupa marah dan dendam di samping ketakutan dialami oleh seluruh masyarakat. Itulah realitas dampak konflik tersebut, berbagai upaya telah dilakukan baik oleh masyarakat dengan caranya masing-masing, maupun oleh pemerintah daerah dan pusat. Namun hingga kini upaya-upaya tersebut belum berjalan secara maksimal. “Jaminan sosial” yang diselenggarakan oleh pemerintah tampaknya belum dapat memperbaiki situasi karena masalahnya tidak sesederhana itu, bahkan justeru sangat berdampak negatif karena masyarakat akhirnya melakukan ketergantungan yang besar terhadap pemerintah dan melahirkan masyarakat yang pasif dan pemalas.
Dalam pembangunan masyarakat ke depan pasca kerusuhan, tentu yang diharapkan adalah terbentuknya masyarakat yang mandiri, dalam pengertian dapat memenuhi kebutuhan dasar rumah tangganya dan tidak bergantung pada belas kasihan orang lain. Secara ideal masyarakat nantinya yang mempunyai partisipasi yang tinggi terhadap pengembangan dirinya, sehingga mampu menciptakan strategi untuk memenuhi kebutuhan baik primer maupun sekunder untuk seluruh anggota keluarganya.
Dengan latar belakang seperti yang diuraikan diatas, dapatlah dirumuskan masalah pokok yang menjadi sorotan tulisan ini yaitu, bagaimana sebaiknya rencana pembangunan masyarakat pasca konflik di kota Ambon yang mandiri ?
Permasalahan tersebut akan dibahas dengan pendekatan sosiologi pembangunan, dengan menawarkan berbagai macam teori yang kemungkinan dapat digunakan baik oleh perencana maupun pelaksana pembangunan, sehingga dari analisa ini dapat ditemukan pilihan yang tepat model mana yang akan diterapkan pada masyarakat kota Ambon, yang tentunya saat ini masih dalam krisis multidimensional, dan masih meraba-raba usaha-usaha apa saja yang harus dilakukan untuk memperbaiki diri, lebih baik dari kondisi sebelum kerusuhan.
Konsep Pembangunan Masyarakat
Ndraha menyebutkan bahwa pembangunan masyarakat tidak saja bermaksud membina hubungan dan kehidupan setiap orang untuk hidup bermasyarakat, melainkan juga untuk membangun masyarakat, misalnya kerukunan, keakraban, solidaritas dan kebersamaan. Pembangunan masyarakat berbeda dengan pembangunan sosial ( social development ) merupakan salah satu upaya mewujudkan cita-cita negara kesejahteraan.
United Nations Center for Regional Development (UNGRD) sebagai dikutip oleh Moeljarto T, mengemukakan tiga macam pengertian “ pembangunan masyarakat “ yaitu :
1. Pembangunan masyarakat sebagai pengadaan pelayanan masyarakat ( pelayanan sosial dan pemberian fasilitas sosial )
2. Pembangunan masyarakat sebagai upaya terencana untuk mencapai tujuan sosial yang kompleks dan bervariasi ( keadilan, pemerataan, peningkatan budaya (cultural promotion), kedamaian pikiran (peace of mind) dan sebagainya.
3. Pembagunan sosial sebagai upaya yang terencana uintuk meningkatkan kemampuan manusia untuk berbuat ( pada arti ini pembagunan berpusat pada manusia (people centered development ).
Pengertian pembangunan itu sendiri adalah proses perubahan yang dilakukan secara sengaja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Lebih jauh Philip Roupp, pembangunan adalah perubahan dari sesuatu yang kurang berarti kepada sesuatu yang lebih berarti, ditambah pula Bintoro Tjokromidjojo dan Mustopodidjaja, pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir.
Sondang P. Siagian, pembangunan adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertunbuhan dan perubahan berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa. Dalam redaksi lain Soedjono Haermadani, pembangunan adalah pertumbuhan beberapa indikator bidang kehidupan melalui perubahan struktur ekonomi dan non ekonomi.
Dari beberapa kutipan yang telah dikemukakan diatas memberikan gambaran bahwa pembagunan masyarakat itu merupakan usaha terus menerus memperbaiki kondisi masyarakat, lebih meningkat secara berkelanjutan, baik dalam bidang materi ( ekonomi ) maupun non materi ( rasa aman dan tentram )
Teori-teori Pembangunan
Teori dan kebijaksanaan yang semula dipandang tepat teori pertumbuhan dan dapat mengatasi “ aggregate demand “ dan “ employment “ yaitu “Makro Ekonomi Keynesian” tetapi kemudian tidak cocok dan dikritik, dengan menunjukkan bahwa teori tersebut merupakan teori barat yang sudah maju “special case” dan hanya dapat diterapkan pada “the typical case” dengan lewat persyaratan yang banyak.
Teori ekonomi dibangun dan dikembangkan untuk memecahkan masalah-masalah ekonomi negara-negara barat yang sudah maju, yang mengusahakan tercapainya “full employment” dan mencegah “secular stagnation”. Sebaliknya ekonomi negara-negara yang sedang berkembang baru akan mulai “take off” jadi masih mengutamakan pertumbuhan di samping redistribusi pendapatan yang lebih merata.
Untuk mengatasi keynesian tersebut diatas, kemudian ditawarkan beberapa pendekatan yang harus diperhatikan dalam pembangunan antara lain:
1. Pendekatan ekologi, yaitu mengusahakan pembangunan yang sekaligus mengembangkan lingkungan hidup dan menyelamatkan dunia dari pengurasan potensi yang berlebihan
2. Teori sumber daya manusia, dalam teori ini meningkatkan mutu sumber daya manusia. Manusia dipandang sebagai kunci bagi pembangunan yang dapat menjamin kemajuan ekonomi dan kestbilan sosial.
3. Mulai dari yang paling butuh, maksudnya dalam pembangunan harus diterapkan (Schmacer) “Help to those who need it most” (mendahulukan mereka yang paling membutuhkan pertolongan).
4. Pemerataan dan pertumbuhan, Trickle down effcts yang tidak kunjung datang sebagai hasil strategi “GNP-oriented” yangh telah menimbulkan berbagi kepincangan sosial ekonomi, menurut ”Adelman Maris hanya mungkin terjadi apabila didukung oleh suatu “Political Will” disertai program dan kebijaksanaan yang drastis, seperti:
- Pengembangan terarah pada peningkatan kesejahteraan penduduk yang tergolong miskin
- Cara-caranya harus berisikan ”fundamental international reform”.
5. Mencukupi kebutuhan dasar (makanan, pemukiman, pakaian, kesaehatan, pendidikan). Setiap proses pertumbuhan yang tidak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan itu, atau bahkan lebih buruk atau menghancurkannya hal yang demikian adalah merupakan aib (cacat) bagi pembangunan.
6. Mengurangi ketergantungan, yang diperlukan bukan saja “growth with stability” tetapi juga “growth with justice” sehingga timbul “redistribution with growth” yang menghendaki masyarakat yang lebih berkeadilan dan merata. Dan selanjutnya lahirlah pendekatan ekologi “marginal change”, “moderate change”, dan “fundamental change”.
Demikianlah enam macam konsep pemikiran (teori) yang dapat digunakan untuk menganalisis dan sekaligus menjadi tawaran alternatif dalam upaya membangun kembali masyarakat kota Ambon ke depan yang lebih aman dan baik.
Permukiman Kembali Pengungsi ke tempat Asalnya
Konsep ini tidak boleh begitu saja diterapkan sebagai kebijaksanaan pemerintah yang harus dipaksakan (top down), melainkan terlebih dahulu kondisi lapangan dan keadaan masyarakat bawah diteliti. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat kondisi pemukiman masyarakat sebelum kerusahan (khususnya kota Ambon) dapat dikatakan tidak ada “segregation” baik dalam bentuk class, cultural, ethnic dan racial, maupun lain-lainnya, semua desa-desa yang ada di kota Ambon, meskipun ada yang dominan, tetap saja segala macam suku, agama, etnis apapun boleh tinggal disitu. Terjadinya segregation yang ada saat ini, adalah merupakan akibat konflik, dan ini adalah alamiah, karena kerusuhan itu dibawa pada identitas keagamaan maka segregation yang ada pada saat ini adalah segregation agama. Setelah saling mengusir dari masyarakat terjadi, masaing-masing pemeluk agama (Islam-Kristen) memiliki area yang aman baginya, terutama untuk tinggal, pandangan/atau himbauan yang menginginkan supaya masyarakat/penduduk kembali memperbaiki rumah misalnya bukan pada area agamanya hampir dapat dikatakan impossible.
Yang mungkin dapat terjadi dan mudah dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat saat ini adalah membangun pemukiman baru di tempat yang aman dalam pengertian luas, yaitu aman terhadap lingkungan, juga aman dari sasaran amuk massa.
Dalam rangka pembangunan kota Ambon yang lebih aman ke depan, faktor pendekatan ekologi merupakan rencana saat ini untuk dapat diterapkan yakni terhadap rumah-rumah penduduk yang sudah hancur, yang berada pada tebing yang curam, seperti Batu Merah Dalam, di Tanjung Batu Merah, dan sepanjang kolong baru, yang secara teknis berbahaya untuk pembangunan rumah, sebaiknya lokasi-lokasi tersebut dibebaskan oleh pemerintah daerah dan menjadi tanah negara. Dan sebagai gantinya masyarakat dibangunkan rumah ditempat yang baru.
Peningkatan Sumber Daya Manusia.
Hal ini semua pihak menyadari betapa pentingnya untuk diprioritaskan, tetapi jalan yang ditempuh menjadi semrawut misalnya ketika dana-dana dari bantuan dunia dan pemerintah, dipercayakan saja kepada LSM yang mengelolanya, dan tanpa pengawasan yang rapi, dan di lapangan atau hasilnya tidak dapat dirasakan.
Jika kita kembali memperhatikan kondisi di lapangan, sektor pendidikan, baik dasar, menengah maupun perguruan tinggi ketika masyarakat kota Ambon terpecah menjadi dua bagian, pendidikan menjadi pincang adanya, karena sarana gedung hancur, tenaga-tenaga ahli (guru) terpencar, dan kemudian murid dan mahasiswa terpencar pula. Apabila kondisi disikapi dan strategi pembangunannya hanya nenuruti pola masyarakat yang ada, maka akan dan banyak biayanya.
Penulis dapat tawar adalah pembangunan gedung sekolah baru, jangan dipaksakan pada yang dulu, jika masyarakat belum menjamin (mau) soal keamanan, jika ini sulit maka yang dapat dilakukan adalah memperluas wilayah netral (tidak yang mendominasi) suatu area seperti diseputar Mardika (pasar) dan sekitarnya, di daerah tersebut rumah-rumah yang sudah hancur, pemerintah bebaskan (ganti-rugi) kemudian di sanalah dibangun sarana yang dapat dipakai bersama seperti sekolah, rumah sakit, dan perkantoran lainnya seperti Bank.
Melihat kepentingan bersama, dan dikelola secara bersama pula diharapkan pembangunan yang dilaksanakan di kota Ambon tidak diketahui adanya terutama pembangunan masyarakat haruslah diartikan sebagai pembangunan untuk mewujudkan self-sustaining capacity masyarakat itu sendiri. Pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development), yang memandang warga nasyarakat sebagai fokus utama maupun sumber utama pembangunan. Pembangunan yang berpusat pada manusia ataupun “pembangunan berwajah manisiawi” dapat mengubah peran masyarakat yang pasif sebagai penerima pelayanan dari pemerintah, menjadi masyarakat yang mampu berperan aktif dalam pembangunan.
Pelayanan Sosial dan Partisipasi Masyarakat
Pelayanan sosial merupakan pelayanan yang disediakan oleh pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Conyers menyebutkan bentuk-bentuk yang dapat dikategorikan pelayanan sosial seperti, pendidikan, kesehatan, perumahan, sanitasi dan pengadaan air bersih, termasuk tempat rekreasi. Dalam hal pelayanan saosial ini peran pemerintah di kota Ambon sudah memadai, dengan indikator bahwa meskipun kerusuhan berlangsung bertahun-tahun, air bersih, kesehatan, malah pada transportasi, juga listrik dan komunikasi lainnya masih dapat berfungsi meskipun dalam kapasitas yang terbatas
Hanya saja dalam memelihara kesejahteraan sosial ini seperti sarana, kesehatan dan pendidikan, partisipasi aktif masyarakat harus ditingkatkan, misalnya turut memelihara sarana-sarana yang ada di samping memanfaatkan secara maksimal bantuan pemerintah yang terkait dengan hal tersebut, seperti bantuan pendidikan atau beasiswa lainnya, janganlah bantuan itu digunakan sekedar kepentingan sosial (konsumtif) belaka dengan yang orientasinya jangka panjang dan berkelanjutan.
Conyers, menyebutkan tiga alasan penting mengapa partisipasi masyarakatdalam pembangunan menjadi penting , yaitu:
1. Partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal.
2. Masyarakat lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika mereka dilibatkan dalam persiapan dan perencanaannya, mereka akan merasa memiliki proyek tersebut.
3. Mendorong adanya partisipasi umum, dan akan menimbulkan anggapan bahwa merupakan hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan.
Konsep partisipasi yang telah dikemukakan di atas akan dapat diterapkan apabila kalangan birokarasi juga perencana pembangunan selalu mendiskusikan, dan mencari data yang akurat untuk suatu perencanaan, sehingga pembangunan yang ada bukan sekedar menguntungkan bagi para teknokrat itu sendiri.
Paradigma, mendahulukan yang terakhir, mengutamakan hal-hal kecil tapi indah, merupakan konsep-konsep yang harus segera diterapkan pada pembangunan masyarakat di kota Ambon. Hal ini penting mengingat masyarakat kota Ambon sangat beragam kegiatannya seperti ada yang ada di pinggiran kota adalah menekuni usaha tani kecil-kecilan, ada juga yang berdagang kecil-kecilan di pasar, di samping menjadi distributor dari kebutuhan pokok penduduk kota.
Penutup
Dari uraian pada bab-bab terdahulu dapat diberi kesimpulan sebagai berikut:
1. Rencana pembangunan masyarakat kota Ambon sebaiknya memperhatikan beberapa komponen pembangunan yang ada seperti ekologi manusia dan aspek lainnya, sehingga tidak terfokus pada peningkatan ekonomi semata. Ada faktor lain tentang aspek kemanusiaan dan keamanan harus menjadi prioritas.
2. Pembangunan masyarakat di Ambon harus diarahkan pada pembangunan berwajah manusiawi artinya pelayanan sosial, partisipasi dan kemandirian menjadi tujuan pokok yang harus dicapai karena dengan tercapainya “self reliance” keberadaan masyarakat ke depan tidak lagi menggantungkan harapan dan cita-citanya pada pemerintah, kecuali pada kemampuan pribadinya.
3. Sebaiknya sebelun dilaksanakan suatu pembangunan apapun dilibatkan masyarakat luas untuk turut memberikan kontribusinya, sehingga dengan demikian sekecil apapun pembangunan yang dilaksanakan masyarakat merasa memilikinya, dan jangan terjadi yang sebaliknya selama ini disegelintir orang bahwa pembangunan pemerintah itu Cuma menguntungkan mereka-mereka para perencana, pelaksana proyek dan sebagainya, tidak kepada masyarakat.

DAFTAR BACAAN

Chambers, Robert, Pembangunan Desa Mulai dari Belakang. Jakarta. LP3S,1988,
Conyers, Diana, Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga Suatu Pengantar, Yogyakarta. UGM Pres, 1998,
Khairuddin, Pembangunan Masyarakat, Yogyakarta. Liberty, 2000,
Long, Norman, Sosiologi Pembangunan Pedesaan, Jakarta. Bumi Aksara,
Ndraha, Talizuduhu, Pembangunan Masyarakat, Jakarta. Rineka Cipta, 1990,
MoelyartoT., Politik Pembangnan Sebuah Analisa Konsep, Arah dan Strategi, Yogyakarta.Tiara Wacana, 1995,
Purba, Janny, Pengelolaan Lingkungan Sosial, Jakarta. Obor Indonesia, 2002,
Suwarsono dan Alvin, Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia, Jakarta. LP3S, 1994,
Tjokroamidjojo, Bintaro dan Mustopodidjaja, Teori dan Starategi Pembangunan Sosial, Jakarta. Haji Masagung, 1998,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: